logo

Copyright ©2016 LAZIS PLN Pusat

Disable Preloader

Detail Rubrik

Mari Berbagi untuk Membersihkan Harta Kita

Nuansa Amal – Melalui Peraturan Direksi PLN No 012/DIR/2015 gaji para pegawai muslim PLN dipotong langsung untuk zakat penghasilan. Uangnya langsung masuk ke kas Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah (LAZIS) PLN.

Sejak peraturan itu diberlakukan, penghimpunan dana zakat dari pegawai muslim PLN melonjak hingga sepuluh kali lipat. Dari semula Rp 8 miliar setahun menjadi Rp 80 miliar per tahun, bahkan ditargetkan mencapai Rp 100 miliar per tahun.

Lalu, kenapa zakat pegawai PLN harus dipotong terpusat? Berikut adalah hasil wawancara Nuansa Amal dengan Direktur Utama PLN, Sofyan Basir. Ia menegaskan:

Zakat merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam sesuai dengan perintah Allah SWT. Oleh karena itu kami menginginkan semua pegawai bisa menyelesaikannya dengan baik, supaya hidup mereka bisa jauh lebih berkah dan lebih baik, karena segala kewajiban mereka atas perintah Allah telah diselesaikan sebaik mungkin.

Menurut hemat kami, hari ini sudah lebih dari 65 persen pegawai muslim PLN yang telah bersedia dan memang harus bersedia untuk dipotong pendapatannya, agar bisa diberikan kepada yang lebih berhak, yaitu kaum dhuafa.

 

Bagaimana dengan sisanya yang 35 persen lagi?

Saya pikir itu masalah waktu. Masalah zakat ini adalah kewajiban, bukan hak mereka. Dalam zakat itu ada hak kaum dhuafa yang dititipkan Allah kepada mereka, sehingga mereka secara langsung atau tidak langsung harus mengeluarkan zakat itu.

 

Banyak pegawai yang beralasan menyalurkan zakat bisa ke tempat lain, tidak harus diakomodir LAZIS PLN?
Silakan, tidak ada kendala. Mari dikumpulkan, karena zakat itu bisa dikembalikan kepada mereka dan bukan hanya keluarga mereka atau lingkungan mereka yang dhuafa, tapi mungkin bisa lebih banyak dan lebih luas. Mereka sebagai penyalur untuk kaum dhuafa, bagi mereka yang belum sempat untuk membagikan secara langsung kepada kaum dhuafa.

 

Jadi tidak diharuskan menyalurkan zakat ke LAZIS PLN?

Bukan tidak diwajibkan. Tapi dalam arti kata, zakat itu kami ambil, tapi kalau ada karyawan kami mau meminta kembali, jangankan hanya masalah zakat yang dia keluarkan, zakat yang lain pun boleh mereka ambil untuk kepentingan kaum dhuafa. Jadi, jangan berpikir bahwa nanti saudara mereka tidak bisa mereka berikan zakat, lingkungan rumahnya yang miskin tidak bisa mereka kasih. Silakan saja, bahkan nanti LAZIS bisa menambah kalau memang di lingkungan mereka banyak kaum dhuafa.

 

Setahu Bapak apakah ada pegawai yang protes dengan dikeluarkannya peraturan direksi itu?

Sampai hari ini tidak ada. Itulah, saya bangga. Mereka memahami agama dengan baik. Kalau kita bayangkan, kita diberikan segalanya oleh Allah, penglihatan, tangan, kaki, mata, pikiran, dan lainnya. Kita bekerja saja dipotong pajak, kita patuh. Zakat ini adalah kewajiban agama, perintah Allah yang telah memberikan kehidupan kepada kita, kebahagiaan kepada kita. Hanya 2,5 persen. Saya rasa tidak ada artinya dengan apa yang diberikan Allah kepada kita. Mari berbagi untuk membersihkan harta kita, salah satunya melalui zakat. Itu akan menjadi hal yang sangat berarti untuk kehidupan kita, kebaikan, dan dijauhkan dari segala marabahaya, dan diberikan kenikmatan, Insya Allah.

 

Apa target dan harapan Bapak kepada pengurus LAZIS?
Saya ingin LAZIS berjalan dengan baik. Setiap tahun harus dituntaskan. Sebanyak-banyaknya saya harapkan untuk kepentingan kaum dhuafa. Kedua kepentingan kaum dhuafa, dan ketiga kepentingan kaum dhuafa, baru kepentingan lainnya.

Mudah-mudahan LAZIS PLN berkembang, seluruh karyawan-karyawati PLN berbahagia karena telah menyelesaikan kewajibannya kepada Allah, dan perusahaan maju pesat, mendapat berkah, tidak ada gangguan, selamat, dan terus berkembang. Aamiin

Share:


Share to Facebook
Tags: