logo

Copyright ©2016 LAZIS PLN Pusat

Disable Preloader

Detail Rubrik

Menjaga Cita-cita Anak Bangsa Tetap Menyala

Nuansa Amal – MustahikLembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh(LAZIS) PLN bertekad mengentaskan kemiskinan. Begitulah visinya. Mengubah mustahik menjadi muzakki. Dari penerima zakat berkembang jadi pembayar zakat.

Ketua LAZIS PLN, Syamsurizal Munif, mengatakan, untuk mewujudkan visi itu, telah dan akan terus dilakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat donasi, baik di lingkup pendidikan, kesehatan, dakwah, sosial, kemanusiaan, dan lainnya.

Sementara ini fokus garapannya lebih diarahkan ke dunia pendidikan. Merangkul para kaum dhuafa yang punya prestasi di dunia akademik. Mereka adalah tunas-tunas bangsa yang kelak akan membuat republik ini tidak hanya berkembang, tapi juga maju. LAZIS PLN sekuat tenaga akan menjaga cita-cita mereka agar tetap menyala, tidak padam lantaran kuliah putus di tengah jalan.

Menurut dia, pemberdayaannya akan tersebar ke seluruh Indonesia, karena PLN mempunyai cabang di tiap daerah. Bahkan, jangkauan pemberdayaannya itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga ke luar negeri, seperti Palestina.

”Rencana juga, ada mahasiswa kita di Newzealand mengharapkan kita membantu masjid mereka di sana. Insya Allah akan kita bantu juga. Tentunya secara bertahap, di samping kita fokus ke internal dengan memperbaiki dan meningkatkan kapabilitas dari pengurus, amil, sehingga LAZIS PLN menjadi lebih baik,” tuturnya.

Ia berharap, LAZIS PLN menjadi lembaga zakat terbaik, khususnya di BUMN dan di seluruh Indonesia, terutama dalam bidang pemberdayaan dan penghimpunan. “Karena alhamdulillah, dalam penghimpunan LAZIS PLN sudah ditargetkan Rp 100 miliar per tahun,” sebutnya.

Helmi Nazamuddin, pembina LAZIS PLN, menambahkan, dibentuknya LAZIS PLN karena di perusahaan banyak yang berkewajiban mengeluarkan zakatnya. “Ibarat sapu lidi. Kalau terkumpul banyak, maka sapu lidi yang terkumpul besar itu bisa menyapu dan membersihkan kotoran-kotoran,” ujarnya.

Begitupun dengan para pembayar zakat. Kalau bersatu dan disatukan akan bisa cepat membersihkan kemiskinan. “Oleh karena itu saya harapkan bagi pegawai muslim PLN, sebaiknya membayar zakat lewat LAZIS, karena akan mudah saat mendapat penghasilan setiap bulan dan IKS, bonus dan seterusnya otomatis akan dipotong, sehingga kita tidak repot lagi memikirkan tentang zakat kita. Ini juga sebagai bentuk kebersamaan kita untuk bersatu mengurangi kemiskinan,” tutur Helmi.

Ia pun mengutip ayat Alquran, “Ambillah zakat dari harta orang-orang kaya agar hartanya bersih, jiwanya bersih, orangnya semakin kaya dan masuk surga. Dan doakanlah orang-orang pembayar zakat agar jiwanya tenang, karena sesungguhnya doamu itu memberikan ketenangan kepada para pembayar zakat”.

Menurutnya, penyaluran zakat di LAZIS PLN sangat jelas. Setiap muzakki berhak mendapatkan informasi, bertanya apa saja programnya, uangnya berapa yang dikumpulkan, dan disalurkan kepada siapa saja.

Pelaporannya pun tidak hanya sampai di internal PLN, tapi juga hingga BAZNAS sesuai dengan Undang-undang tentang pengelolaan zakat. “Laporan kepada para muzakki dalam bentuk papan pengumuman dan e-mail, serta buletin. Sedangkan kepada BAZNAS dalam bentuk surat resmi, serta setiap triwulan kita laporkan kepada manajemen yakni direksi PLN selaku pembina LAZIS,” paparnya.

Menurutnya, sebanyak 20 persen dana LAZIS PLN dikelola oleh LAZIS PLN Pusat untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat nasional, seperti membuat balai latihan kerja yang bekerja sama dengan Al-Azhar membentuk rumah gemilang nasional, atau dengan Rumah Zakat Indonesia, BAZNAS, Dompet Dhuafa, PKPU, dan lainnya.

“Karena skala nasional, kita kerjasama dengan lembaga yang lebih profesional, yang penting hasilnya nyata dan dinikmati oleh para mustahik se-Indonesia. Sedangkan 80 persennya akan dikembalikan kepada masing-masing unit seluruh Indonesia,” ungkapnya. ***

Share:


Share to Facebook
Tags: